Halaman4
Abu Sangkan mengenai Abu
Umamah
Oleh Abu Sangkan 25 Agustus
2009 jam 15:33
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wa barakatuh
Asyhadu an laa ilaha illa Allah
wa asy hadu anna
Muhammadarrasulullah
Allahumma shalli 'ala
Muhammad wa 'ala ali
Muhammad
Dewasa ini saya sering tidak
menanggapi ulasan-ulasan
saudara sesama muslim
mengenai ajaran shalat khusyu'
dan karya-karya saya berupa
buku-buku yang saya tulis.
Terkadang terasa tidak adil
dan tidak bijak, karena
didalam mengulas karya-karya
buku saya dibutuhkan pemikir
an yang baik.
Namun saya berbesar hati
didalam menanggapi hal ini,
asalkan tidak menjadi sebuah
permusuhan yang mengarah
kepada perpecahan. Persoalan
ini karena perbedaan persepsi
dan pemahaman saja. Saya
dapat memakluminya, karena
ini terjadi akibat latar
belakang ilmu dan
pengalaman, serta kedewasan
sebagai orang Islam. Saya
sangat senang dan terbuka
dengan adanya bantahan dan
tanggapan, terlebih kalau
dilakukan dalam forum diskusi
yang diselengarakan didepan
publik. Melalui cara itu,
mereka akan mendapatkan
informasi yang lebih lengkap
dan jelas dari sebuah
pemaparan, karena bahasa
tulisan terkadang kurang
mewakili dari maksud yang
dikandung.
Namun demikian saya tetap
akan memberikan tanggapan
ringan saja, buat pembaca
buku-buku saya, terutama
kepada saudara Abu Umamah
yang dengan semangat
mengecam dan menganggap
sesat karya-karya saya. Saya
hanya mengharap kepada Abu
Umamah, tetap teguh berjuang
menegakkan keadilan. Saya
salut terhadap beliau, karena
semangatnya dalam
memurnikan ajaran Islam
dengan gigih, meskipun
terkadang kurang pandai
mengemas dengan akhlak yang
baik.
Saya sangat faham mazhab
yang dianut Abu Umamah yang
menyebutnya dirinya sebagai
Ahli Sunnah Waljama'ah atau
seorang salafi. Karena saya
juga pernah belajar hal serupa
sehingga saya bisa mengerti
kemana arah pemikiran dan
manhaj-nya. Pertentangan ini
bukan hal yang baru bagi saya
dan umat Islam telah
mengalaminya selama
berabad-abad. Ini hanya
berganti generasi saja. Misinya
cukup simple, yaitu
memberantas TBC, yaitu
tahayyul, bid'ah dan churafat
(baca: khurafat).
Pertentangan ini bukan hal
yang baru terjadi didunia Islam.
Sejarah telah mencatat
munculnya pertentangan yang
terjadi di Indonesia seperti
kaum Nahdhiyyin (KH Hasyim
Asy 'ari) dan kelompok
Muhammadiyah (KH. Ahmad
Dahlan) maupun dari Persis (A.
Hasan). Persoalan yang
dianggap bid'ah seperti qunnut,
yasinan, tahlilan, baca barzanji,
baca shalawat nabi dan lain
sebagainya, adalah topik
utama mereka. Namun
perkembangan sekarang
ketiga kelompok tersebut
sudah terlihat saling
menghormati setelah informasi
semakin canggih.
Saya masih ingat pada waktu
kecil, kaum Muhammadiyyah
membid'ahkan kaum
Nahdhiyyin (NU) shalat tarawih
23 rakaat, sedangkan kaum
Muhammadiyyah 11 rakaat.
Namun sekarang sudah tidak
menjadi masalah, karena di
Saudi Arabiyyah melakukan 23
rakaat. Demikian juga
persoalan adzan Jum'at yang
dilakukan oleh Nahdhiyyin dua
kali adzan sedangkan kaum
Muhammadiyyah satu kali
adzan. Ternyata di Saudi
Arabiyyah melakukan dua kali
adzan. Padahal Nabi
melakukan shalat tarawih
dimasjid hanya 3 hari,
selebihnya dilakukan dirumah.
Dan yang uniknya lagi, imam
Masjidil Haram membaca
qunnut didalam akhir
Ramadhan namun diselipkan
doa-doa yang tidak berasal
dari Nabi, terbukti ia
menyebutkan kata-kata
Allahumma dammir Amerika,
Israil. Padahal didalam ibadah
tidak boleh menambah-nambah
ibadah yang tidak diajarkan
oleh Nabi. Demikian juga doa-
doa dalam tawaf, tenyata
banyak yang dibuat oleh para
ulama', padahal tawaf adalah
peribadatan yang ditetapkan
sunnahnya. Dan orang-orang
Saudi menggunakan alat
dzikirnya meniru orang-orang
Budha dan Katolik (rosario),
yaitu biji tasbih made in China.
Dan mengenai penyusunan
mushaf Al qur'an, awalnya
para sahabat mengalami
perdebatan keras, terutama
Zaid sekretaris Nabi. Karena
Nabi tidak memerintahkan
membukukan Al qur'an yang
berserakan dan tertulis di
pelepah korma, kulit kambing
dan lain sebagainya.
Tuduhan-Tuduhan Abu
Umamah
Saya sangat mengenal konsep
pemikiran Abu Umamah dalam
melancarkan setiap tuduhan-
tuduhan yang berbeda
pandangan dengan dia. Saya
kira dia hanya kurang faham
mengenai pemaparan buku-
buku saya, karena memang
harus memilki ilmu pendukung
untuk mampu memahami
karya saya.
Didalam memahami tanggapan
tulisan-tulisan saya, harus siap
membuka hati dan pikiran.
Dibutuhkan kejujuran dan
kebersihan hati, bukan
dilandasi karena emosi dan
kebencian. Watawa saubil haq
watawa saubish shabri ...
Walaupun saya belajar ilmu
tasawuf, tapi saya bukanlah
orang tasawuf. Walaupun saya
belajar ilmu salafi, tetapi saya
bukanlah orang salafi.
Walaupun saya belajar ilmu
filsafat, tetapi saya juga bukan
orang filsafat. Walaupun saya
belajar ilmu meditasi tetapi
saya menolak meditasi. Saya
hanyalah orang biasa yang
menjalankan shalat lima
waktu, bersyahadat, berzakat,
berpuasa di bulan Ramadhan
dan menunaikan ibadah Haji ke
Baitullah. Bagi saya ini sudah
cukup dan tidak keluar dari
ajaran Islam. Adapun
kekurangan didalam
menjalankan syariat, saya
berusaha semaksimal mungkin
untuk memenuhinya sehingga
tidak ada kata berhenti untuk
belajar. Termasuk saya pun
mempelajari cara berfikir Abu
Umamah, tapi saya tidak akan
seperti Abu Umamah.
Abu Umamah menuduh Saya
sebagai Pencipta Ajaran Shalat.
Hal ini jauh dari kenyataan.
Seharusnya saya sudah diusir
dari masjid-masjid besar kalau
benar-benar saya menyimpang.
Padahal saya mengadakan
pelatihan shalat di adakakan di
halayak ramai, bukan ditempat
yang tersembunyi. Bahkan saya
sudah memberikan pemaparan
shalat khusyu' dihadapan MUI
Banjarmasin, Singapura,
Hongkong, Jepang, Malaysia,
Australia, dan seluruh
Indonesia. Dan alhamdulillah
mereka setuju dengan konsep
pengajaran yang dilandasi
syariat yang kuat. Karena Abu
Sangkan tidak merubah shalat
yang sudah menjadi hukum
mahdhah. Justru saya
mengajak untuk mengahayati
setiap gerakan dan bacaan
dalam shalat, seperti
meluruskan punggung ketika
ruku', berdiri tuma'ninah, sujud
sempurna. Seluruh metode,
saya ambil dari cara Rasulullah
mengajarkan shalat kepada
para sahabat . Pada waktu itu,
Nabi selalu menegur langsung
ketika sujudnya terlalu cepat
seperti burung mematuk
makanan. Semuanya saya latih
diluar shalat, sebagaimana
umumnya orang memiliki
metode membaca Al qur'an.
Mungkin, Abu Umamah
terganggu dengan istilah
"meditasi", sehingga ia
mengira saya memasukkan
unsur meditasi dalam shalat.
Padahal istilah meditasi itu
bukan ajaran agama Hindu.
Kata meditasi itu sendiri
berasal dari bahasa Inggris,
bukan bahasa India, yang
berarti berdoa (praying), atau
menenangkan pikiran.
Sedangkan kata atau istilah
berdo'a, beribadah, beriman
dan lain sebagainya, telah
menjadi dan digunakan oleh
agama-agama lain di Indonesia.
Hal ini tidak bisa dipungkiri
kenyataannya.
Dari sisi marketing, buku
shalat khusyu diminati orang-
orang yang belum shalat,
karena ada kata meditasi. Hal
ini terinspirasi oleh ulama di
Jawa masa Wali Songo yang
mengganti kata "shalat"
dengan "sembahyang", untuk
menarik minat agar orang-
orang Hindu ikut sembahyang
(shalat) di masjid. Dan
dihalaman masjd, dibuat pintu
masuk berupa gapura yang
berasal dari kata
"pura" (tempat sembahyang
orang Hindu). Namun
maknanya diganti menjadi
ghafura dari bahasa Arab,
yang berarti pengampunan
(jawa: ngapura). Dan lihatlah
bangunan masjid di Demak dan
masjid-masid di Jawa terlihat
kental dengan unsur arsitektur
Hindunya.
Kata "meditasi" sama dengan
kata "spiritual" yang sering
dugunakan orang-orang Islam.
Karena bahasa tidak bisa
diklaim oleh salah satu agama
saja. Sama halnya ketika anda
melihat bangunan gedung
pemerintahan di Kremlin yang
menggunakan kubah dan
menara masjid. Kalau orang
tidak tahu, pasti terkecoh
dikira masjid. Atau malah
sebenarnya terbalik, kubah
dan menara bukanlah hasil
karya arsitek muslim. Karena
gereja-gereja pada masa
Konstantinopel sudah
menggunakan kubah. Yang
paling unik adalah kata
"menara" ternyata berasal
dari kata "naarun", yang
berarti api. Sedangkan menara
dulunya adalah tempat api
persembahyangan kaum
Majusi.
Apakah seseorang dilarang,
jika sebelum shalat melatih diri
untuk belajar berdiri dengan
tenang ketika shalat?
Menenangkan pikiran agar
tidak ngelantur kemana-mana.
Padahal saat shalat, kita
sedang berhadapan dengan
sang Khalik. Berarti kesadaran
jiwa dan pikiran harus terfokus
kepada yang disembah, yaitu
Allah. Sedangkan orang Budha
terfokus kepada sang Bodha
Gautama, orang Kristiani
terfokus kepada Yesus Kristus.
Perhatian saya dalam pelatihan
shalat khusyu adalah agar
bagaimana hati dan pikiran
selalu berhubungan dengan
Allah, bukan kepada selain
Allah. Termasuk melatih agar
tidak mudah melamun.
Kenyataan ini telah menjadi
keluhan hampir seluruh
masyarakat Islam. Mengapa
Abu Umamah hanya
mementingkan segi fisik saja,
sementara ruhiyah diabaikan.
Padahal Allah hanya menerima
shalat seseorang dilandasi
keikhlasan (mukhlishina lahu
addien). Sebagaimana kisah
orang Arab Badui yang
mengaku beriman, ternyata
baru sampai kulit luarnya saja,
sehingga Allah menurunkan
ayat berikut ini :
Dan orang-orang Arab Badui
berkata: Kami telah beriman,
katakanlah (kepada mereka)
kamu belum beriman, tetapi
katakanlah kami tunduk,
karena iman itu belum masuk
kedalam hatimu (QS. Al
Hujuraat,49: 14)
Dan sebuah hadist
menegaskan :
Anta'buda ka annaka tarahu
fainlam takun tarahu fa innahu
yaraka
Beribadahlah seolah engkau
melihat Allah, kalau engkau
tidak mampu melihat Nya,
sesungguhnya Dia melihat
engkau ( Al hadist shahih ).
Dan Allah melarang shalat
seperti shalatnya orang-orang
munafik, karena dilakukan
dengan perasaan malas dan
pikirannya tidak terfokus
kepada Allah kecuali hanya
sedikit. Mereka shalat karena
dilandasi ingin dilihat orang
lain (riya'). Perbuatan riya' dan
munafik itu adanya dihati,
karena ternyata orang munafik
juga shalat
Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah,dan
Allah akan membalas tipuan
mereka. Dan apabila mereka
berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya' (dengan
shalat) dihadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut
nama Allah kecuali hanya
sedikit (QS. An Nisa,4:142)
Abu Umamah hanya kurang
peka terhadap tulisan-tulisan
saya dalam menyampaikan
hadist-hadist yang saya uraikan
dalam bentuk praktek. Dikira
saya mengarang shalat kreasi
baru. Terbukti jamaah saya
shalat dimana-mana tidak ada
yang aneh. Dan saya pun telah
menjadi imam shalat
dihadapan ribuan jamaah,
namun mereka tidak ada yang
protes. Seandainya Abu
Umamah bisa menyempatkan
shalat berjamaah dengan saya,
pasti tidak akan terjadi
perdebatan seperti ini. Tetapi
tidak apa-apa, insya Allah
suatu waktu akan berjumpa
dalam shalat bersama.
Kesimpulan dari persoalan
pelatihan shalat khusyu'.
Selama tidak ada larangan dari
Nabi, berarti kebolehan. Yang
dilarang adalah merubah
syariat shalat. Termasuk
bacaan shalat dirubah menjadi
bahasa Indonesia, seperti yang
dilakukan oleh Yusman Roy
dari Malang (Perdebatan via
Teleconference antara Abu
Sangkan dengan Yusman Roy di
Metro TV).
Ditegaskan disini, shalat
diawali dengan niat lalu takbir
sampai salam. Diluar itu
bukanlah shalat. Maka
kegiatan pelatihan shalat
bukanlah shalat, tetapi hanya
latihan. Bagaimana menurut
Anda, sebelum memasuki
takbir, bolehkan kita
melakukan kegiatan oleh raga,
tertawa, atau baca buku? Atau
setelah menyelesaikan salam,
bolehkan kita melakukan
kegiatan gerakan-gerakan
bebas seperti melompat dan
berlari. Selama itu tidak
dilakukan didalam shalat,
maka itu bebas (boleh) bukan
mengada-mengada soal
agama. Tetapi kalau kegiatan
itu dilakukan didalam shalat,
maka itu bid'ah. Semoga Abu
Umamah memahami arti bid'ah
dalam beribadah.
Tuduhan bahwa Abu Sangkan
Penganut Wihdatul Wujud
Didalam buku saya "Berguru
Kepada Allah". Pada bab
misteri Al hallaj, saya justru
meluruskan ajaran Al hallaj
yang kurang sempurna. Karena
Al Hallaj tidak mampu
melepaskan kesadarannya,
sehingga tidak bisa
membedakan mana Allah dan
mana dirinya. Inilah yang
dinamakan ittihad (penyatuan).
Kesimpulan saya pada bab ini,
adalah manusia pada awalnya
tidak ada dan akan kembali
tidak ada. Yang kekal hanyalah
Allah semata. Kullu man
'alaiha faan .... wa yabqa dzul
jalali wal ikram ... Apakah ayat
ini ada yang salah?. Siapakah
sebenarnya yang kekal abadi ?.
Namun kalau difahami dengan
benar, saya sependapat
dengan pejelasan Imam Al
ghazaly, bahwa Al hallaj tidak
mengaku Allah. Dia hanya
membaca ayat yang berbunyi :
innani Ana Allah laa ilha illa
ana fa'budnii ....
Sungguhnya Aku ini adalah
Allah, tidak ada Tuhan (yang
Haq) selain Aku, maka
sembahlah Aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat Aku.
(QS. Thaha 20:14)
Wallahu a'lam.
Saya hanya menganggap Abu
Umamah khilaf dan kurang
teliti membaca bab ini.
Pikirannya terlalu dipenuhi
kecurigaan dan hatinya
bergejolak kurang tenang. Dan
ilmu tidak akan bisa masuk
kepada orang yang hatinya
tidak dipenuhi cahaya Ilahy.
Pada bab-bab sebelumnya,
banyak ayat-ayat mutasyabihat
yang saya kutip. Dan saya tidak
berani menafsirkan ayat-ayat
tersebut dengan pikiran saya.
Saya hanya membiarkan ayat-
ayat mutasyabihat tersebut
apa adanya, seperti kalimat
yadullah (kedua tangan-Ku).
Melihat uraian ini, Abu
Umamah tidak faham. Dikira
saya membuat pernyataan
"mentashbihkan" (menyerupakan)
Allah dengan tangan manusia.
Sama sekali tidak !! Ayat-ayat
mutasyabihat hanya bisa
difahami oleh hati orang yang
bertakwa. Alif laam mim ...
dzalikal kitabu laa raiba fiihi
hudan lil muttaqien .... Tidak
ada satu dalilpun yang
mengatakan, bahwa para
sahabat menanyakan arti ayat-
ayat mutasyabihat kepada
Rasulullah dan Beliau tidak
memberikan tafsir ayat-ayat
mutasyabihat.
Didalam surat Al anfal ayat 17,
Allah berfirman :
Maka bukan kamu yang
membunuh mereka, akan
tetapi Allahlah yang
membunuh mereka, dan bukan
kamu yang melempar ketika
kamu melempar, tetapi Allah-
lah yang melempar.
Pada ayat ini, apakah
Rasulullah dianggap seperti Al
Hallaj atau wihdatul wujud?.
Jika ditanya: "Wahai
Rasulullah, siapakah yang
membunuh dan melempar
panah ketika engkau membidik
panah?". Kira-kira apa jawaban
Beliau ....?? Kalau Beliau
menjawab sesuai dengan ayat
diatas, pastilah Beliau akan
mengatakan, "Allahlah yang
melempat panahku ....."
Masihkah Anda menuduh saya
wihdatul wujud, yang Anda
sendiri tidak paham persoalan
ini?.
Tuduhan bahwa Abu Sangkan
Menganut Sinkretisme
Mungkin Abu Umamah kurang
paham arti sinkretisme,
sehingga saya dianggap
menganut faham ini. Tidak ada
satupun ajaran tersebut dalam
buku saya. Justru saya hanya
prihatin melihat kemunduran
umat islam selama berabad-
abad.
Mengapa orang-orang Eropa
mampu menemukan sains
modern dan mampu
menciptakan teknologi
canggih?. Ternyata mereka
perduli terhadap fenomena
alam yang luar biasa, yang
memberikan pelajaran bagi
manusia. Padahal mereka tidak
mengenal Al qur'an. Namun
mereka telah memanfaatkan
kemampuan berfikirnya dan
akal sehatnya untuk meneliti
gejala alam yang terhampar
luas. Mulai dari energy listrik,
nuklir, mineral, bahan kimia,
ilmu aerodinamika, biologi,
psikologi, neurologi, astronomi,
mesin diesel, kapal selam dll.
Hampir semuanya dikuasai
oleh mereka. Sementara umat
Islam hanya diam tidak turut
terlibat mengamati sumber
alam yang penuh manfaat bagi
kelangsungan hidup manusia.
Tanpa disadari hasil penemuan
mereka dimanfaatkan oleh
umat Islam seluruh dunia,
termasuk negara-negara Arab,
meminta bantuan Amerika
untuk pengeboran minyak,
mengolahnya, bahkan
menjualkannya.
Padahal Al qur'an telah
memberikan wacana berfikir
kepada kita, agar tidak
ketinggalan dalam ilmu
pengetahuan. Sebagaimana
disebutkan ayat-ayat berikut
ini :
Dan sesungguhnya pada
binatang ternak itu terdapat
pelajaran bagimu, Kami
memberimu minum dari pada
apa yang berada dalam perut
(berupa) susu yang bersih
antara tahi dan darah,yang
mudah ditelan bagi orang yang
hendak meminumnya (QS.An
Nahl,16:66)
Dan Kami hamparkan bumi itu
dan Kami letakkan padanya
gunung-gunung yang kokoh
dan Kami tumbuhkan padanya
segala macam tanaman yang
indah dipandang mata. Untuk
menjadi pelajaran dan
peringatan bagi tiap-tiap
hamba yang kembali (QS.
Qaaf,50:7-8)
Sesungguhnya pada langit dan
bumi benar-benar terdapat
ayat-ayat Allah bagi orang-
orang yang beriman. Dari pada
penciptaan Kamu dan
binatang-binatang yang melata
yang bersebar (dimuka bumi)
terdapat ayat-ayat (tanda-
tanda) kekuasaan Allah bagi
kaum yang yakin. Dn pada
pergantian malam dan siang
serta hujan yang diturunkan
Allah dari langit sebagai rezeki
lalu dihidupkan-Nya bumi
sesudah matinya dengan air
hujan itu,dan pda perkisaran
angin terdapat pula ayat-ayat
(tanda-tanda) kekuasaan Allah
bagi mereka yang berakal.
Itulah ayat-ayat Allah, Kami
memebacakannya kepadamu
sebenarnya,maka dengan
perkataan manakah lagi
mereka akan beriman sesudah
(kalam) Allah dan ayat-ayat-
Nya. (QS. Al Jastsiyah,45: 3-6)
Dalam ayat-ayat diatas
terdapat kandungan
peringatan untuk umat Islam.
Disamping mereka diharuskan
membaca Al qur'an yang
diturunkan kepada Nabi
Muhammad, namun
diperintahkan pula untuk
memikirkan ciptaan Allah
sebagai pelajaran. Namun
fakta yang terjadi sangat
ironis, justru orang-orang
kafirlah yang menguasai ilmu
pengetahuan, seperti
peternakan, geologi, geofisika
vulkanologi dan lain
sebagainya. Apakah saya
disebut sebagai penganut
sikretisme kalau saya
memahami ilmu-ilmu tersebut?
Bukankah saudara Umamah
tidak sadar, bahwa ilmu-ilmu
tersebut adalah ciptaan Allah
dan kita diperintahkan untuk
mengambil sebagai pelajaran?.
Ulasan-ulasan yang tidak
difahami oleh Abu Umamah
dalam bukunya Mengenal
Lebih Dekat dengan Abu
Sangkan halaman 84.
Sangat kelihatan Abu Umamah
tidak membaca dengan baik
tulisan-tulisan saya;
Padahal uraian saya adalah
sebuah kesimpulan dari hadist-
hadist nabi yang menyuruh kita
shalat dengan serius dan
thumaninah dan tidak terburu-
buru. Selanjutnya dipraktekkan
sebagaimana saya tulis dalam
buku saya halaman 58-59.
Padahal semua yang
dipraktekkan adalah tuntunan
Nabi yang saya jadikan
metodologi. Seperti berdiri
thumaninah, rukuk, sujud dan
tahiyyat. Semuanya dilakukan
dengan tenang dan rendah
hati. Pertanyaanya adalah :
Apakah dilarang berdiri
sehingga tulang-tulang dan
sendi-sendi dalam tubuh kita
rileks dan tidak tegang ketika
shalat ?
Apakah dilarang pikiran hening
didalam shalat? Mengapa tidak
tidak menyalahkan orang yang
pikirannya melamun dan
ngelatur kemana-mana ketika
shalat? Bukankah itu lebih
bid'ah, karena pikiran
Rasulullah tidak pernah
melamun dalam shalat.
Apakah dilarang ketika hati
kita hadir dalam shalat,
sementara banyak orang
shalat tetapi hatinya tidak
hadir?
Apakah dilarang memperbagus
shalat dan wudhu' seseorang
dengan dibarengi hatinya ingat
kepada Allah, sementara
banyak orang berwudhu yang
tidak menghayati wudhu'nya
sehingga tidak ubahnya
mencuci muka biasa?.
Apakah salah orang shalat
harus dilakukan dengan
kesadaran ?
Sementara Abu Umamah
menyalahkan persoalan-
persoalan ini.
Kesimpulan dari uraian
Umamah, bisa diketahui bahwa
dia shalat namun pikirannya
tidak tenang, karena ia
melarang orang shalat
pikirannya hening. Dan
shalatnya tidak dilakukan
dengan tenang dan
tumakninah, karena ia
melarang melatih tulang-
tulang kembali pada
tempatnya. Justru dialah yang
yang tidak menjalankan sunnah
Nabi, karena yang saya tulis
adalah sunnah Nabi dalam
mengajarkan shalat kepada
para sahabat. Tolong pelajari
lagi hadist-hadist yang
memerintahkan untuk sadar
dalam shalat, membetulkan
tulang-tulangnya sehingga
lurus dan tenang didalam
setiap gerakan rakaat maupun
bacaannya.
Semua hadist yang menyangkut
shalat khusyu' sudah saya
himpun dan saya susun menjadi
pelajaran bagi yang shalatnya
terburu-buru dan pikirannya
melayang-layang, dan ini perlu
dilatih. Bagi yang tidak mau
latihan jangan mengusik orang
yang sedang belajar. Melarang
orang belajar shalat sama
halnya orang-orang Yahudi
yang menghalang-halangi
shalat, hanya saja dikemas
dengan perkataan "bid'ah",
agar tidak terlihat
menghalangi orang-orang yang
sedang belajar shalat. Kalau
memang Abu Umamah orang
Islam yang benar, pasti dia
akan mendatangi rumah saya
dan berdiskusi dengan baik dan
penuh akrab dan shilaturrami.
Dengan diawali dengan shalat
berjamaah tentunya. Inilah
akhlak Islam yang sebenarnya
yang banyak dilakukan kaum
sufi yang bersih hatinya.
Abu Umamah mengaku Ahli
Sunnah Waljama'ah ?
Saya belum percaya seratus
persen kalau Abu Umamah
adalah ahli sunnah wal jamaah.
Mengapa demikian? Karena
yang saya tahu jumlah hadist
Rasulullah dikeluarkan dan
diriwayatkan berjumlah
puluhan ribu bahkan jutaan
jumlahnya. Itupun masih
tergantung kedudukan
keshahihannya. Dan berapa
jumlah hadist yang shahih,
hasan, mutawatir, masyhur,
muan'an, mudhayyaq,
musalsal, ahad, gharib,
munqati'? Sudahkan Anda
mampu menjalankan seluruh
sunnah Nabi? Belum lagi
jumlah ayat-ayat dalam Al
qur'an, sudahkan Anda mampu
menjalankan semuanya?. Apa
hukumnya yang tidak
menjalankan Islam secara
kaafah?. Masihkan Anda berani
mengatakan ahli sunnah wal
jamaah? Anda tidak ada
bedanya dengan saya yang
hanya menjalankan sebagian
sunnah nabi saja. Anda masih
menggunakan uang yang ada
gambar orangnya, yang
menurut hadist hukumnya
haram. Sementara, Anda
sering melarang orang melukis
makhluk hidup. Hal ini sama
halnya orang-orang Saudi yang
tidak konsisten, mereka
menempelkan lukisan-lukisan
Raja Fahd, Raja Abdullah, Raja
Suud di setiap hotel di Saudi
Arabiayah.
Apa hukumnya orang yang
menyesatkan orang lain,
sementara saya telah
bersyahadat setiap shalat,
menjalankan shalat lima
waktu, berzakat, berpuasa di
bulan Ramadhan, menunaikan
ibadah haji ke Baitullah ?
Saya memaafkan Abu Umamah
karena dia belum kenal
dengan saya, walaupun dia
mengaku dalam tema bukunya
"Mengenal lebih dekat dengan
Abu Sangkan". Namun dia
tidak kenal dengan saya,
apalagi berdiskusi dengan baik
dan terhomat.
Saya khawatir terhadap Abu
Umamah, dia tidak bisa
membedakan Islam dan kultur
Arab yang keras. Islam adalah
akhlak dan lemah lembut,
apalagi dalam berdakwah. Al
qur'an menyuruh berdakwah
dengan cara yang sangat
lembut dan mauidhatil
hasanah ... cara ini dilakukan
oleh ulama' Jawa (Wali Songo)
sehingga ummat Hindu tertarik
mempelajari Islam, walaupun
masih belum sempurna.
Mungkin kalau Anda ingin
merasakan bagaimana sulitnya
berdakwah, cobalah
berdakwah di wilayah Hindu,
seperti di Bali. Kalau Anda
jujur, pasti Anda akan
mengatakan Wali Songo itu
hebat dan cerdas.
Ulama Jawa, ketika melihat
umat Hindu menjalankan ritual
kematian mengadakan upacara
selama tujuh hari, mereka
tidak langsung merubah kultur
dan kebiasaan agama
sebelumnya. Apalagi langsung
menhardik dengan kata-kata
kafir sesat dan bid'ah. Mereka
mengisi hari-hari tersebut
dengan bertahlil dan
bertahmid. Maksudnya
mengarahkan tauhid mereka
agar tidak menyekutukan
Tuhan. Lihatlah situs-situs
masjid Menara Kudus yang
berbentuk seperti candi, pintu
gerbang masjid seperti seperti
pura Hindu, atap mesjid dibuat
seperti pagoda. Mereka tidak
merubah pakaian menjadi
pakaian Saudi Arabiayah atau
Pakistan, india, tetapi tetap
menggunakan sarung seperti
yang dipakai orang Hindu pergi
sembahyang ke pura.
Hal ini terjadi terhadap
fiqhuddakwah Partai Keadilan
Sejahtera. Mereka melakukan
dakwah melalui dan mengisi
peluang dunia politik sebagai
kendaraan dakwah mereka di
DPR. Mereka bertujuan
menegakkan syariah, namun
dinilai salah oleh beberapa
kelompok Islam, karena
melalui cara sekuler, yaitu
Trias Polica.
Kesimpulan dari penjelasan
saya diatas, bukanlah akhir
jawaban saya. Karena masih
banyak lagi yang bisa saya
sampaikan jika diperlukan. Dan
saya sangat senang jika bisa
berjumpa langsung dengan Abu
Umamah demi keadilan dan
menjalankan sunnah Al qur'an,
yaitu bermusyawarah dengan
baik. Dan sekali lagi Abu
Umamah bukanlah Ahli Sunnah
Waljamaah yang murni, tapi
hanya sekedarnya saja. Kalau
berjumpa dia, saya bisa
tunjukkan hadist mana yang
tidak dijalankan oleh dia, dan
hadist mana yang telah
dilanggar oleh dia.
Hayya 'alash shalah hayya 'alal
falah .....
Wassalam
ABU SANGKAN
Jl. Kemangsari IV/5, Jatibening
Bekasi.